Kenali Gejala Bell’s Palsy, Stroke Ringan yang Menyerang Bagian Wajah

JawaPos.com – Meski bukan tergolong penyakit baru, masih banyak orang yang belum memahami salah satu penyakit saraf, bell’s palsy. Penyakit ini dapat menyebabkan kelumpuhan di bagian wajah.

Sering kali keluhan yang datang dianggap bagian dari stroke ringan karena sama-sama bersifat mendadak. Namun kurangnya pemahaman masyarakat tentang penyakit ini membuat rumor seputar bell’s palsy terus berkembang. Banyak yang salah mengartikan gejala antara keduanya. Padahal, perbedaan antara bell’s palsy dan strok ringan ternyata sangat jauh. Termasuk gejala dan pengobatannya.

Dokter Spesialis Saraf Rumah Sakit Pertamina Balikpapan (RSPB) Fajar Rudy Qimindra mengungkapkan, jika bell’s palsy menyerang saraf tepi, lain halnya dengan strok yang menyerang saraf utama. Selain itu, efek yang terjadi dari bell’s palsy hanya menyebabkan kelumpuhan pada salah satu sisi otot wajah. Berbeda dengan strok yang bisa membuat kelumpuhan hingga saraf tangan dan kaki.

“Bell’s palsy merupakan kelainan yang terjadi di saraf nomor 7 tepi. Saraf tepi sendiri berada di telinga hingga dahi, mata, dan bibir. Sarafnya seperti kipas dan mengelilingi daerah itu. Biasanya terjadi mendadak. Makanya sering disalahartikan jadi strok ringan, padahal jauh berbeda,” katanya.

Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya itu menyebutkan, gejala bell’s palsy justru mirip dengan flu. Kalangan medis kerap menyebutnya dengan gejala flu like syndrome. Keluhan yang terasa seperti demam, batuk, badan menggigil. Alasannya karena bell’s palsy berkaitan dengan penurunan daya tahan tubuh. Continue reading

Ini 6 Kondisi yang Memicu Terpaparnya Virus Kanker yang Diderita Jupe

JawaPos.com – Berbagai faktor risiko paling rentan terpapar virus HPV (Human Papilloma Virus) adalah karena berhubungan seksual. Sebanyak 80 persen penularan disebabkan karena hubungan seksual. Namun ada 20 persen penyebab dari faktor lain sekalipun belum pernah berhubungan seksual.

Misalnya karena toilet jorok atau berganti pakaian dalam dengan pengidap kanker serviks. Dalam keterangan tertulis dari hellosehat.com, Selasa (13/6), ada kondisi lainnya yang membuat perempuan berisiko kanker serviks. Sedikitnya ada enam hal yang tidak disangka ternyata dapat memicu risiko.

1. Kelebihan Berat Badan
Perempuan yang kelebihan berat badan lebih berisiko untuk terkena adenokarsinoma serviks.

2. Kehamilan
Perempuan yang telah menjalani tiga kehamilan penuh atau lebih, atau yang mengalami kehamilan penuh pertamanya sebelum usia 17 tahun, dua kali lebih berisiko untuk kanker serviks.

3. Imunosupresi
Pada kebanyakan orang dengan sistem kekebalan tubuh yang sehat, virus HPV akan hancur dengan sendirinya dalam tubuh dalam 12-18 bulan. Namun, orang dengan HIV atau penyakit kesehatan lainnya atau yang menggunakan obat-obatan yang membatasi sistem kekebalan tubuh berisiko tinggi terkena kanker serviks.

4. Diethylstilbestrol (DES)
Perempuan yang ibunya pernah menggunakan DES, suatu obat yang diberikan pada wanita untuk mencegah keguguran dari tahun 1940 sampai 1971, mengalami peningkatan risiko terkena kanker serviks.

5. HPV
Continue reading

Makanan Pengaruhi Potensi Depresi

JawaPos.com – Depresi, sebuah kondisi memprihatinkan dimana angka kejadian penderitanya semakin meningkat. Kabar buruknya, penderita depresi yang kebanyakan adalah perempuan sering mengkonsumsi obat anti-depresan dengan mudahnya. Bukannya hal yang buruk, namun alangkah lebih baik mencari tahu pengobatan lain yang lebih tidak melibatkan farmakologi.

Menurut Mental Health Foundation, mereka yang didiagnosis masalah kesehatan mental juga melaporkan pola makan yang kurang sehat. Mereka cenderung kurang mengkonsumsi buah segar dan sayuran. Konsumsi makanan mereka didominasi yang lebih tidak sehat seperti keripik, coklat, makanan siap saji dan takeaway.

Continue reading

Kesehatan Reproduksi Orang Muda Diabaikan

Populasi dunia telah mencapai tujuh miliar jiwa, dan jarak tiap kenaikan satu miliar melesat lebih dari 10 kali sejak jarak kenaikan miliar pertama ke miliar kedua (1804-1927). Namun, hak-hak dan kesehatan reproduksi dan seksual atau RSHR masih terus dipinggirkan. Maria Hartiningsih

Peningkatan menjadi dua miliar dari satu miliar penduduk dunia tahun 1804 butuh 123 tahun pada tahun 1927. Akan tetapi, hanya butuh 12 tahun dari enam miliar menuju tujuh miliar, pada 31 Oktober 2011.

Masalah kependudukan tak bisa dipisahkan dari RSHR. Konferensi Internasional tentang Kependudukan dan Pembangunan (ICPD) di Kairo, Mesir, tahun 1994 secara eksplisit mengaitkan kesehatan reproduksi dan seksual dengan hak asasi manusia.

Persoalannya, kata ’reproduksi’ dan ’seksual’, ditambah ’hak’, dan dikaitkan dengan orang muda, mengandung konotasi negatif. Benturan antara moral (agama) dan realitas sosial membuat RSHR menjadi wilayah kontestasi paling serius.

Dalam konteks itu, Konferensi Asia-Pasifik ke-6 mengenai Hak-hak dan Kesehatan Reproduksi dan Seksual (APC RSHR ke-6) di Yogyakarta, 19-22 Oktober 2011, menjadi penting. Apalagi dalam Laporan Tahunan Yayasan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Aktivitas Populasi (UNFPA) 2011, The State of World Population: People and Possibilities, terlihat kecenderungan penuh paradoks.

Penduduk dunia akan terus bertambah meski angka pertumbuhan penduduk ditekan. Penduduk dengan usia di bawah 25 tahun jumlahnya mencapai 43 persen dari populasi, bahkan di beberapa negara mencapai 60 persen.

Terus diabaikan

Menurut Kepala Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional Sugiri Syarief, upaya memecahkan masalah terkait kesehatan reproduksi dan seksual, disertai promosi keadilan jender dengan prinsip non-diskriminasi, kesetaraan dan kewajiban negara adalah komponen penting dalam upaya penghapusan kemiskinan.

Namun, seperti dikemukakan Ketua Panitia APC RSHR, Dr Muhajir Darwin, Negara tak banyak berbuat untuk memecahkan masalah terkait kesehatan reproduksi orang muda. Kalau- pun ada, tindakan itu tidak melindungi hak-hak dan martabat korban. ”Cara pemerintah menanggapi persoalan terkait masalah seksual lebih berbasis pada ’salah dan malu’,” tegasnya.

Tak mengherankan kalau pemerintah gagal melindungi warganya dari infeksi seksual menular, termasuk HIV/AIDS, dan gagal melindungi perempuan dari kematian karena praktik aborsi tak aman.

Continue reading

Soal Ganja untuk Pengobatan, Ini Kata Menteri Kesehatan

 

 

JAKARTA, KOMPAS.com – Menteri Kesehatan angkat bicara soal pengguna ganja untuk pengobatan. Menkes menyampaikan hal ini menanggapi kasus Fidelis Ari yang ditangkap oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) karena menanam ganja untuk pengobatan istrinya yang mengalami kista tulang belakang.

Menurut Nila, penggunaan ganja kemungkinan sama halnya dengan penggunaan morfin. Keduanya bukan untuk menyembuhkan melainkan penghilang rasa sakit.

“Kan bisa membuat seperti fly ya, jadi artinya lupa akan rasa sakit dan lainnya. Jadi bukan mengobati tapi mengurangi simtoma,” ujar Nila di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (3/4/2017).

“Jadi kalau morfin yang kita gunakan bukan berguna mengobati karena kalau sakit itu sudah ke tulang, sakitnya bukan main,” tambah Nila.

(Baca: Mengalir, Dukungan untuk Fidelis yang Ditangkap karena Tanam Ganja demi Obati Istri)

Penggunaan morfin pun, lanjut Nila, tidak bisa dilakukan sembarangan. Tetap ada pengawasan dari dokter agar penggunaanya tidak berlebihan. Pasalnya, jika tak sesuai takaran yang ditentukan, justru akan membuat pasien menjadi ketagihan.

“Jadi artinya dengan jumlah siapa yang ngambil itu tercatat. Jadi artinya saya enggak bisa berlebihan membeli dengan seenaknya, berarti itu tidak benar,” kata Nila.

Sementara itu, Nila mengatakan, belum berencana melakukan penelitian terhadap ganja yang diyakini dapat digunakan sebagai obat dari pelbagai penyakit.

“Saya kira belum ya,” katanya.

(Baca: Tanam Ganja untuk Pengobatan Istri, Fidelis Tak Seharusnya Ditangkap dan Dibui)

Continue reading